• Wed, Aug 2026

Metro Manila Jadi Pintu Ekspor WIKA Beton, Berapa Kontribusi Pendapatannya?

Metro Manila Jadi Pintu Ekspor WIKA Beton, Berapa Kontribusi Pendapatannya?

WIKA Beton memperluas bisnis ke Filipina melalui proyek Metro Manila Subway. Ekspansi ini dapat mengurangi ketergantungan terhadap pasar domestik dan proyek WIKA Group, tetapi kontribusi ekspor belum disajikan secara khusus dalam laporan keuangan.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: PT Wijaya Karya Beton Tbk mulai menjadikan Filipina sebagai pintu masuk ke pasar beton pracetak Asia Tenggara. Setelah memasok beton pelapis terowongan untuk Metro Manila Subway Paket CP102, emiten berkode saham WTON tersebut memperoleh pekerjaan komponen rel pada Paket CP106.

Ekspansi itu menjadi bagian dari strategi WIKA Beton mencari sumber pertumbuhan di luar pasar konstruksi domestik. Pasar ekspor juga dapat membantu perusahaan menjaga utilisasi pabrik ketika permintaan produk beton di Indonesia melemah.

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian Interim WIKA Beton per 30 Juni 2026, perseroan mempunyai kontrak pekerjaan PC Sleeper Metro Manila Subway Project CP106 senilai Rp117,44 miliar.

Pekerjaan tersebut berlangsung sejak 1 Februari 2026 hingga 1 Februari 2027. Pemberi kerjanya adalah PT Wijaya Karya Komponen Beton atau WIKA Kobe, anak usaha WTON yang bergerak dalam industri beton pracetak.

Kontrak Metro Manila menjadi kontrak individual terbesar yang dicantumkan WTON dalam daftar perikatan signifikan per Juni 2026. Nilainya lebih besar dibandingkan pekerjaan ekspansi pabrik tisu OKI sebesar Rp104,28 miliar dan proyek pembangunan underpass di Muara Maung sebesar Rp74,62 miliar.

Berawal dari Paket CP102

Keterlibatan WIKA Beton dalam proyek kereta bawah tanah Filipina tidak dimulai dari CP106. Pada Juli 2025, perseroan melakukan pengiriman perdana Precast Concrete Lining atau segmen pelapis terowongan untuk Metro Manila Subway Paket CP102.

Produk tersebut dikirim dari pabrik WIKA Beton di Angat, Bulacan. Pekerjaan dilaksanakan melalui kerja sama dengan Sta. Clara International Corporation dalam konsorsium pembangunan struktur terowongan bawah tanah.

Kuntjara WIKA Beton
Direktur Utama WIKA Beton Kuntjara menyatakan proyek tersebut menjadi bukti kesiapan perusahaan bersaing di pasar global. Selain memperluas pasar, kerja sama itu digunakan untuk mendorong transfer pengetahuan, standardisasi produksi, serta peningkatan kemampuan tenaga kerja lokal.

“Momentum ini merupakan bukti kesiapan WIKA Beton sebagai Concrete Expert yang mampu bersaing di pasar global,” kata Kuntjara, dikutip dari keterangan resmi WIKA Beton.

WIKA Beton menggunakan fasilitas produksi di Filipina untuk mengerjakan segmen pelapis terowongan CP102. Sementara itu, komponen lintasan kereta untuk lingkup pekerjaan lainnya diproduksi melalui WIKA Kobe.

Model tersebut memungkinkan perusahaan menggunakan kombinasi fasilitas lokal di Filipina dan kapasitas produksi dari Indonesia sesuai jenis produk dan kebutuhan proyek.

Nilai Kontrak Perlu Diperjelas

Terdapat dua angka yang muncul terkait nilai pekerjaan WIKA Beton dalam proyek Metro Manila Subway.

Dalam laporan keuangan semester I 2026, kontrak PC Sleeper CP106 dengan WIKA Kobe tercatat Rp117,44 miliar. Namun, Kuntjara pada April 2026 menyebut nilai proyek Metro Manila yang dikerjakan WTON mencapai US$10,7 juta atau sekitar Rp182,70 miliar berdasarkan kurs saat itu.

Kuntjara menjelaskan WIKA Beton berperan memproduksi segmen terowongan dan memasok komponen lintasan kereta bawah tanah. Proyek tersebut didanai Japan International Cooperation Agency atau JICA, sedangkan pekerjaan trackwork melibatkan Colas Rail. 

Dua nilai tersebut belum tentu merujuk pada lingkup pekerjaan yang sama. Angka US$10,7 juta dapat mencakup paket atau bagian pekerjaan yang lebih luas, sedangkan Rp117,44 miliar merupakan kontrak khusus antara WTON dan WIKA Kobe untuk PC Sleeper CP106.

Perusahaan perlu menjelaskan pembagian nilai antara CP102, CP106, WIKA Beton sebagai perusahaan induk, dan WIKA Kobe sebagai anak usaha. Penjelasan tersebut dibutuhkan agar investor dapat menghitung pendapatan, margin, dan manfaat ekonomi ekspansi Filipina bagi WTON secara konsolidasian.

Pendapatan Ekspor Belum Disajikan Khusus

Meskipun Metro Manila sering disebut sebagai tonggak ekspansi internasional, kontribusi ekspor belum terlihat secara terpisah dalam laporan keuangan WIKA Beton.

Pada 2025, laporan tahunan mencatat pendapatan jasa Cabang Filipina sebesar Rp4,37 miliar. Nilainya hanya sekitar 0,12% dari total pendapatan konsolidasian WTON yang mencapai Rp3,59 triliun.

Pada semester I 2026, pos pendapatan jasa wilayah luar negeri tidak membukukan pendapatan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pos tersebut masih mencatat Rp31,61 miliar.

Namun, nihilnya pendapatan jasa luar negeri tidak berarti seluruh penjualan ekspor WTON bernilai nol. Pendapatan proyek Metro Manila dapat dicatat sebagai penjualan produk melalui WIKA Kobe atau masuk ke wilayah operasi domestik berdasarkan lokasi perusahaan yang melakukan penagihan.

Laporan keuangan belum menyajikan satu pos khusus yang menggabungkan seluruh pendapatan ekspor produk dan jasa. Akibatnya, pembaca belum dapat mengetahui secara pasti besarnya kontribusi pasar internasional terhadap pendapatan dan laba WTON.

Keterbukaan mengenai ekspor menjadi penting karena biaya proyek luar negeri berbeda dengan pasar domestik. Perusahaan menghadapi risiko kurs, logistik, perizinan, perpajakan lintas negara, ketentuan komponen lokal, dan kemampuan mitra proyek.

Masalah Lahan Ikut Membayangi

Pendanaan dari JICA memberikan kepastian yang relatif lebih baik dibandingkan proyek yang bergantung pada kemampuan keuangan kontraktor atau pengembang swasta. JICA menyebut Metro Manila Subway dibangun untuk memenuhi peningkatan permintaan transportasi dan mengurangi kemacetan di kawasan metropolitan Filipina. 

Namun, proyek tetap menghadapi risiko pelaksanaan. Kuntjara menyebut progres proyek Metro Manila baru sekitar 30% pada April 2026. Salah satu kendalanya adalah pembebasan lahan.

“Masalah di sana juga sama kayak kita. Kadang-kadang masalah tanah, belum terlalu bebas,” ujar Kuntjara.

Keterlambatan pembebasan lahan dapat memengaruhi jadwal produksi dan pengiriman komponen. Bagi produsen beton pracetak, perubahan jadwal proyek dapat meningkatkan persediaan barang jadi, memperpanjang waktu serah terima, dan menunda penerimaan pembayaran.

Risiko itu relevan bagi WTON. Pada akhir Juni 2026, persediaan barang jadi di gudang meningkat 25,53% menjadi Rp597,79 miliar. Barang jadi dalam pengiriman juga naik 36,29% menjadi Rp65,68 miliar.

Mengurangi Ketergantungan pada WIKA Group

Ekspansi internasional berjalan bersamaan dengan upaya WTON memperluas pelanggan di luar kelompok usaha WIKA.

Hingga Juni 2026, WIKA Beton memperoleh kontrak baru Rp1,97 triliun. Pelanggan swasta menjadi penyumbang terbesar dengan porsi 46,37%, disusul kerja sama operasi 34,10%, BUMN 16,40%, dan WIKA Group 3,13%.

Komposisi tersebut menunjukkan perolehan kontrak baru WTON tidak lagi didominasi langsung oleh induk usaha. Pada sisi neraca, ketergantungan terhadap pihak berelasi memang masih besar, tetapi kontrak baru mulai bergerak ke pelanggan swasta dan kemitraan strategis. 

Berdasarkan sektornya, infrastruktur menyumbang 61,50% kontrak baru, diikuti industri 16,97%, properti 8,54%, dan sektor lainnya 12,99%.

Pasar swasta dan ekspor dapat membantu WTON mengurangi risiko perubahan prioritas anggaran pemerintah. Namun, perusahaan tetap perlu memastikan kontrak yang diperoleh mempunyai kepastian pendanaan, margin memadai, dan jadwal pembayaran yang sehat.

Bidik Proyek Kereta dan LNG

Keberhasilan Metro Manila juga digunakan WTON untuk mencari proyek lain di luar negeri. Kuntjara menyebut perseroan mengikuti peluang proyek North–South Commuter Railway atau NSCR di Filipina yang mempunyai lintasan sekitar 100 kilometer.

Proyek tersebut masih berada dalam tahap penjajakan sehingga belum dapat diperhitungkan sebagai kontrak atau pendapatan WTON.

Selain Filipina, WIKA Beton menyatakan telah menandatangani nota kesepahaman terkait pembangunan fasilitas produksi gas alam cair atau LNG di Alaska, Amerika Serikat. Statusnya masih sebatas nota kesepahaman dan belum menjadi kontrak definitif.

Pemisahan antara kontrak, proses tender, penjajakan, dan nota kesepahaman menjadi penting. Pasar internasional menawarkan nilai proyek besar, tetapi waktu dari penjajakan hingga pengakuan pendapatan dapat berlangsung panjang.

Metro Manila memberikan WIKA Beton rekam jejak untuk memasuki proyek perkeretaapian dan terowongan di negara lain. Namun, keberhasilan ekspansi tidak cukup diukur dari pengiriman perdana atau nilai kontrak.

Tolok ukur akhirnya adalah berapa pendapatan ekspor yang dapat dibukukan, margin yang dihasilkan setelah memperhitungkan biaya produksi dan logistik, serta kas yang benar-benar diterima WTON.

Tanpa pengungkapan pendapatan ekspor yang lebih terperinci, Metro Manila masih lebih mudah terlihat sebagai pencapaian reputasi dibandingkan sebagai mesin laba baru bagi WIKA Beton.