• Tue, Aug 2026

Suntikan Rp23,67 Triliun Mulai Angkat Armada, Ekuitas Garuda Kembali Tergerus

Suntikan Rp23,67 Triliun Mulai Angkat Armada, Ekuitas Garuda Kembali Tergerus

Tambahan modal dari pemerintah membuat ekuitas Garuda Indonesia kembali positif dan memperkuat kas untuk pemeliharaan armada. Namun, kerugian kuartal I 2026 kembali memangkas bantalan modal perseroan sebesar 25,7%.

Suntikan modal senilai Rp23,67 triliun mulai memberikan ruang bagi PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk untuk memperbaiki likuiditas dan mengembalikan pesawat ke kondisi siap terbang. Namun, dukungan besar tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan keuangan maskapai berkode saham GIAA itu.

Garuda masih membukukan kerugian pada kuartal I 2026. Kerugian tersebut kembali menggerus ekuitas perseroan yang baru saja berubah menjadi positif pada akhir 2025.

Pada Desember 2025, Garuda memperoleh tambahan modal sekitar Rp23,67 triliun atau setara US$1,42 miliar dari pemerintah melalui Danantara. Transaksi itu terdiri atas konversi pinjaman pemegang saham sekitar Rp6,65 triliun dan setoran modal tunai kurang lebih Rp17 triliun.

Tambahan modal tersebut mengubah posisi ekuitas Garuda secara signifikan. Ekuitas perseroan yang sebelumnya negatif sekitar US$1,35 miliar berbalik menjadi positif US$91,91 juta pada akhir Desember 2025.

Akan tetapi, tiga bulan kemudian, ekuitas Garuda kembali turun menjadi sekitar US$68,25 juta. Artinya, bantalan modal perseroan menyusut US$23,66 juta atau sekitar 25,7% hanya dalam satu kuartal.

Penurunan itu berlangsung seiring dengan kerugian konsolidasian Garuda sebesar kurang lebih US$46,48 juta pada kuartal I 2026. Dari jumlah tersebut, sekitar US$41,62 juta merupakan kerugian yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa suntikan modal berhasil memperbaiki neraca, tetapi belum serta-merta membuat bisnis Garuda mampu menciptakan laba secara berkelanjutan.

## Liabilitas masih mendominasi aset

Pada akhir Maret 2026, Garuda memiliki total aset sekitar US$7,5 miliar. Sementara itu, jumlah liabilitasnya mencapai kurang lebih US$7,43 miliar.

Dengan demikian, liabilitas setara sekitar 99% dari total aset perseroan. Ekuitas hanya menjadi lapisan tipis yang memisahkan Garuda dari kemungkinan kembali mencatatkan modal negatif apabila kerugian berlanjut.

Risiko tersebut menjadi penting karena posisi ekuitas positif Garuda pada akhir 2025 bukan berasal dari akumulasi laba operasional, melainkan terutama dari transaksi penambahan modal.

Akumulasi kerugian perseroan pada akhir 2025 masih mencapai sekitar US$3,83 miliar. Angka itu menunjukkan bahwa restrukturisasi dan tambahan modal belum menghapus kerugian historis yang terbentuk selama bertahun-tahun.

Beban keuangan juga masih menjadi salah satu persoalan terbesar. Sepanjang 2025, Garuda menanggung beban keuangan sekitar US$525,79 juta, naik dari US$479,90 juta pada 2024.

Pada kuartal I 2026, beban keuangan memang turun menjadi sekitar US$104 juta dari US$124,57 juta. Namun, nilainya masih lebih dari dua kali selisih antara pendapatan dan beban usaha Garuda yang hanya sekitar US$49,13 juta.

Akibatnya, perbaikan kegiatan penerbangan belum cukup untuk menutup biaya yang timbul dari utang, sewa, restrukturisasi, dan kewajiban pembiayaan lainnya.

## Saldo kas melonjak karena pendanaan

Tambahan modal juga membuat posisi kas Garuda meningkat tajam. Saldo kas dan setara kas pada akhir 2025 mencapai sekitar US$943,4 juta, naik lebih dari empat kali lipat dibandingkan US$219,1 juta pada akhir 2024.

Namun, kenaikan tersebut tidak seluruhnya berasal dari kegiatan operasional. Sepanjang 2025, Garuda memperoleh arus kas bersih dari aktivitas pendanaan sekitar US$911 juta.

Pada periode yang sama, arus kas operasi justru turun sekitar 20% menjadi US$468,4 juta. Garuda juga mengeluarkan arus kas investasi sekitar US$649,1 juta, antara lain untuk kebutuhan pemulihan dan pemeliharaan armada.

Komposisi tersebut menunjukkan bahwa peningkatan kas Garuda pada akhir 2025 sangat dipengaruhi oleh dukungan pendanaan. Karena itu, kemampuan perseroan mempertahankan likuiditas tetap bergantung pada keberhasilan mengubah tambahan modal menjadi pesawat produktif dan pendapatan baru.

Jika dana hanya digunakan untuk menutup kewajiban lama tanpa menghasilkan arus kas tambahan, posisi kas berpotensi kembali menyusut.

## Sebagian besar dana mengalir ke Citilink

Sekitar Rp15 triliun atau 64% dari dukungan senilai Rp23,67 triliun dilaporkan dialokasikan untuk penyelesaian kewajiban dan kebutuhan pemulihan PT Citilink Indonesia.

Adapun sekitar Rp8,7 triliun digunakan untuk program pemeliharaan armada Garuda, termasuk heavy maintenance pesawat Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, dan Airbus A330.

Program tersebut juga mencakup perbaikan atau overhaul mesin, auxiliary power unit, landing gear, serta komponen pesawat lainnya.

Besarnya alokasi untuk Citilink menunjukkan bahwa pemulihan Garuda Group sangat bergantung pada keberhasilan memperbaiki anak usaha berbiaya rendah tersebut.

Pada 2025, pendapatan Citilink turun sekitar 25,7%. Jumlah penumpang berkurang sekitar 21,1%, kapasitas penerbangan atau available seat kilometre turun 21%, dan frekuensi penerbangan menyusut sekitar 22,4%.

Di saat kapasitas menurun, biaya per kursi di luar bahan bakar Citilink justru meningkat sekitar 8,5%. Kondisi tersebut membuat anak usaha itu menjadi salah satu sumber tekanan terhadap kinerja konsolidasian Garuda.

Karena itu, efektivitas suntikan modal perlu diukur dari seberapa banyak kewajiban Citilink yang berhasil diselesaikan, berapa pesawat yang kembali diterbangkan, serta kapan anak usaha tersebut mampu mencapai titik impas.

## Pesawat siap operasi mulai bertambah

Dari sisi operasional, program pemulihan armada mulai memperlihatkan hasil awal. Jumlah pesawat siap operasi Garuda Group dilaporkan mencapai 102 unit pada kuartal I 2026.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sekitar 98–99 pesawat siap operasi pada akhir 2025. Dari total 142 pesawat yang dikelola ketika itu, sebanyak 43 pesawat atau sekitar 30% masih tidak siap diterbangkan.

Garuda menargetkan memiliki 68 pesawat siap operasi pada akhir 2026. Sementara itu, Citilink ditargetkan mengoperasikan 50 pesawat.

Dengan demikian, Garuda Group menargetkan total 118 pesawat siap operasi pada akhir tahun. Dibandingkan posisi kuartal I sebanyak 102 pesawat, perseroan masih harus mengembalikan sedikitnya 16 pesawat ke kondisi siap terbang.

Penambahan armada mulai diikuti perbaikan kegiatan penerbangan. Pada kuartal I 2026, Garuda Group mengangkut sekitar 5,42 juta penumpang, naik 6,76% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Frekuensi penerbangan meningkat sekitar 5,87% menjadi 19.337 penerbangan. Tingkat ketepatan waktu juga membaik dari 87,93% menjadi 91,01%.

Pendapatan Garuda naik 5,36% menjadi US$762,35 juta, sedangkan beban usaha turun tipis menjadi US$713,22 juta. Kerugian yang diatribusikan kepada pemilik induk pun menyusut dari sekitar US$75,93 juta menjadi US$41,62 juta.

Perkembangan itu menunjukkan bahwa tambahan pesawat mulai memberikan kontribusi terhadap kapasitas, jumlah penumpang, dan pendapatan. Namun, Garuda masih membutuhkan perbaikan yang jauh lebih besar agar hasil operasi mampu mengimbangi beban keuangan.

## Danantara pastikan tetap mendukung

Managing Director Finance Danantara Asset Management Sahala Situmorang memastikan pihaknya tetap mendukung Garuda dalam menjalankan proses pemulihan.

“Namun yang pasti, kami ada di sana untuk mendukung Garuda,” ujar Sahala di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Danantara juga melakukan uji ketahanan terhadap sejumlah risiko, terutama pelemahan rupiah dan konflik geopolitik yang dapat mendorong kenaikan harga minyak serta avtur.

Tekanan tersebut berpotensi memengaruhi arus kas Garuda karena sebagian besar biaya bahan bakar, pemeliharaan, sewa, dan pembiayaan menggunakan dolar AS. Pada saat bersamaan, sebagian pendapatan penerbangan domestik diterima dalam rupiah.

Namun, dukungan Danantara juga menimbulkan pertanyaan mengenai batas dan tolok ukur keberhasilan penyelamatan. Pemerintah perlu menjelaskan indikator yang harus dicapai Garuda sebelum memperoleh dukungan lanjutan.

Indikator tersebut setidaknya dapat mencakup jumlah pesawat yang kembali produktif, utilisasi armada, profitabilitas setiap rute, arus kas operasi, penurunan beban keuangan, dan target titik impas Citilink.

Tambahan modal Rp23,67 triliun telah memberikan waktu dan ruang bagi Garuda untuk memulihkan armada. Tantangan berikutnya adalah memastikan dana tersebut tidak hanya memperbaiki tampilan neraca dalam jangka pendek.

Keberhasilan penyelamatan baru dapat dinilai apabila pesawat yang selesai dirawat mampu menghasilkan pendapatan, arus kas operasi meningkat, beban keuangan menurun, dan ekuitas tidak kembali habis untuk menutup kerugian.

Tanpa perubahan tersebut, tambahan modal berisiko hanya menjadi bantalan sementara sebelum Garuda kembali membutuhkan dukungan finansial dari negara.