JAKARTA — DAMRI menyiapkan peluang pengoperasian bus listrik untuk mendukung layanan transportasi pada MotoGP Mandalika 2026. Rencana tersebut mengemuka dalam agenda site visit bus listrik yang digelar di Unit Perbengkelan DAMRI, Jakarta Timur, Jumat, 24 Juli 2026.
Site visit tersebut dihadiri perwakilan Pemerintah Provinsi NTB Lalu M. Faozal, Kepala Dinas Perhubungan NTB Ervan Anwar, Head of Transport & Infrastructure Technical Advisor PT Amman Mineral Internasional Tbk John Noldi Dajoh, Direktur Human Capital & General Affairs DAMRI Peppy Fachrial, serta Direktur Teknik dan Fasilitas DAMRI Arifin.
Agenda ini menjadi tindak lanjut penjajakan penguatan transportasi publik di NTB, terutama menjelang event internasional yang membutuhkan manajemen angkutan massal terintegrasi.
MotoGP Mandalika 2026 dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Kalender resmi MotoGP menempatkan Grand Prix Indonesia di Mandalika dalam rangkaian balapan Asia setelah Motegi, Jepang.
Shuttle Dalam dan Luar Kawasan
Lalu M. Faozal mengatakan, bus listrik dapat digunakan untuk mendukung dua kebutuhan utama. Pertama, layanan reguler dari Bandara Internasional Lombok menuju Kota Mataram dan Bandara Internasional Lombok menuju Mandalika. Kedua, layanan shuttle dalam dan luar kawasan saat MotoGP berlangsung.
Menurut Faozal, implementasi rute bandara-Mataram dan bandara-Mandalika ditargetkan dapat dimulai pada 1 Agustus 2026. Rute tersebut diharapkan menjadi tahap awal sebelum pola layanan diperluas untuk mendukung kebutuhan mobilitas penonton dan wisatawan pada event besar.
Penggunaan bus listrik dinilai dapat meningkatkan kualitas layanan transportasi event. Selain lebih senyap dan minim emisi, bus listrik memberi pengalaman perjalanan yang lebih nyaman bagi penumpang.
Dalam uji coba menggunakan bus listrik Higer KLQ6121ZAEV, para peserta site visit menyampaikan kesan positif. Bus berukuran 12 meter dengan kapasitas sekitar 41 kursi tersebut dinilai memiliki kabin nyaman, akselerasi halus, dan getaran lebih rendah.
John Noldi Dajoh mengatakan, pengalaman pertama mencoba bus listrik tersebut memberi kesan baik. Ia menilai karakter bus yang halus dan nyaman dapat menjadi nilai tambah untuk layanan transportasi publik maupun shuttle kawasan.
Perlu Kesiapan SPKLU dan Parkir
Direktur Human Capital & General Affairs DAMRI Peppy Fachrial menyampaikan, implementasi bus listrik tidak hanya bergantung pada kesiapan armada. Infrastruktur pendukung seperti lokasi pengisian daya, area parkir, ketersediaan pasokan listrik, dan kesiapan teknis operasional harus dipastikan sejak awal.
DAMRI berkomitmen menindaklanjuti penjajakan tersebut dalam satu hingga dua minggu ke depan melalui survei lokasi. Survei akan melihat potensi penempatan stasiun pengisian kendaraan listrik umum atau fasilitas charging, lokasi parkir, kesiapan jaringan listrik, serta pola operasi harian.
Peppy menegaskan, DAMRI memiliki pengalaman mengoperasikan bus listrik di Jakarta melalui layanan Transjakarta. Pengalaman itu dapat menjadi basis pembelajaran untuk implementasi di NTB, meski karakter rute, cuaca, jarak tempuh, dan kebutuhan operasional di daerah perlu dikaji secara khusus.
Kepala Dinas Perhubungan NTB Ervan Anwar juga menilai terdapat sejumlah rute di Kota Mataram yang sudah ramai dan memiliki traffic tinggi. Rute-rute tersebut dapat menjadi kandidat awal implementasi bus listrik setelah kajian teknis dilakukan.
Jika berhasil diterapkan, bus listrik berpotensi menjadi bagian penting dari wajah baru transportasi Mandalika. Selain mendukung kelancaran MotoGP, layanan ini dapat memperkuat citra NTB sebagai destinasi pariwisata yang mulai bergerak menuju mobilitas rendah emisi.