• Tue, Jun 2026

Piala Dunia 2026, Negara yang Saya Kunjungi Lolos ke Babak Gugur

Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Piala Dunia 2026 semakin deras bergulir. Dari 48 tim, enam negara sudah memastikan tiket babak 32 besar: Meksiko, Amerika Serikat, Jerman, Prancis, Norwegia, Argentina. Anehnya, 5 dari 6 bendera itu sudah pernah saya sentuh. Bukan di stadion. Tapi di jalan, di ruang kuliah, di dermaga Sungai Seine, di taman Buenos Aires. Norwegia saja yang belum.

Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.

Kelas Pertama Saya di Dunia

AS adalah negara pertama yang saya injak. 1992. Saya belajar di New York Institute of Finance. Bukan turis. Saya murid. Setiap pagi kereta bawah tanah membawa saya dari Queens yang jauh ke jantung Manhattan. Di sana saya belajar komunikasi finansial. Saya mencermati cara kerja Wall Street yang nadinya uang.

Saya lihat bagaimana SEC mengawasi, bagaimana pialang Merrill Lynch bergerak, bagaimana Nasdaq berdetak tanpa henti. Bagi anak Betawi, itu seperti masuk ke mesin waktu ekonomi dunia.

Seusai kelas, saya studi banding ke Washington DC. Nginap di rumah teman beberapa malam. Makan di restoran mewah, lalu menyaksikan kerusuhan di DC dan New York. Kota itu indah sekaligus mencekam. Pertama kali naik Amtrak menghubungkan dua negara bagian.

Dari jendela kereta, saya lihat Amerika: gedung pencakar langit, rel panjang, dan kecemasan di mata orang-orang di Queens.

Pada 2006 saya kembali. Kali ini ke Chicago belajar bioteknologi. Riset pertanian di Texas. Setahun kemudian saya tenggelam di arsitektur Chicago dan Madison. Kota itu mengajari saya: beton juga bisa bernyanyi.

Pada 2011 saya ke New York lagi. Liput kegiatan politik. Ketemu Maya Soetoro, adik Presiden Barack Obama. Obrolan ringan, tapi bagi saya itu bukti: AS selalu memberi ruang untuk berdialog.

Kunjungan kelima ke Hawaii. Liputan sekaligus test drive Lexus terbaru. Habis itu naik helikopter, makan di restoran mewah, disambut aloha yang tulus. Hawaii mengajari saya: keramahan bisa jadi identitas nasional.

Kini 2026, AS lolos sebagai juara Grup D. Tuan rumah. Mainnya mungkin belum seindah Brasil, tapi semangatnya sama seperti Amtrak 1992: maju terus, walau relnya panjang dan kadang mencekam.

Ombak dan Kerusuhan di Acapulco

  1. Misi dagang dan industri Kadin Indonesia. Duta Besar RI untuk Meksiko saat itu Usman Hasan. Tugas resmi, kaku, penuh angka ekspor-impor.

Tapi Meksiko tidak pernah mau hanya soal angka. Kenangan paling indah saya di Acapulco. Tebing tinggi, penyelam clavadista terjun 35 meter ke Pasifik. Saya duduk makan ceviche, minum michelada, dan berpikir: berani itu indah.

Ada juga sisi mencekamnya. Kerusuhan pecah. Jalanan panas. Saya belajar: Meksiko itu kontras. Lembut seperti mariachi, keras seperti sejarahnya.

Tiga puluh tahun kemudian Meksiko jadi tim pertama yang lolos ke 32 besar PD 2026. Juara Grup A. El Tri main seperti Acapulco: ekspresif, nekat, tidak menghitung risiko. Stadion Azteca pasti akan mengguncang lagi. Seperti ombak menghantam tebing.

Ciuman di Pipi dan Tango di Konser

Dari Meksiko saya ke Argentina. Negara yang dingin di luar, panas di dalam. Taman kotanya indah, militernya disiplin, wanitanya cantik-cantik. Saya naik pesawat pribadi milik pengusaha Indonesia, makan malam di restoran mewah, dengar Don’t Cry For Me Argentina berkumandang di konser mahal.

Kenangan paling manusiawi justru di mall Buenos Aires. Usia 32 tahun. Saya belanja suvenir. Kasir gadis muda memberi kembalian, lalu memberi ciuman di pipi. “Para la suerte,” katanya. Untuk keberuntungan.

Saya kaku. Dia tertawa. “Orang Argentina begitu.” Sejak itu saya paham: di Argentina, protokol kalah oleh kedekatan.

2026 Argentina datang sebagai juara bertahan. Sudah lolos ke 32 besar. Mainnya tetap Albiceleste: keras, cerdik, punya garra. Saya membayangkan perayaan di Buenos Aires nanti. Pasti seperti malam di mall itu: orang berpelukan, berciuman pipi, berbagi kemenangan tanpa tanya “kamu siapa”.

Bahasa dan Grafika di Düsseldorf

Pada 2004 saya ke Jerman. Düsseldorf, pameran industri grafika. Saya banyak belajar bahasa Jerman di sana. Bahasa yang awalnya terdengar keras, tapi ternyata presisi. Sama seperti mesin cetak Jerman: tidak banyak bicara, tapi hasilnya rapi.

Jerman mengajari saya disiplin. Tidak dramatis seperti Argentina, tidak ekspresif seperti Brasil. Tapi konsisten. Dan konsistensi itu yang membawa mereka jadi juara dunia berkali-kali.

Di PD 2026 Jerman lolos sebagai juara Grup E. Mesinnya kembali hidup. Saya membayangkan operan mereka: pendek, akurat, tanpa basa-basi. Seperti bahasa Jerman yang saya pelajari di Düsseldorf.

Eiffel dan Seine yang Menghapus Jarak

Masih 2004. Setelah Jerman, saya ke Prancis. Tujuan utama: Menara Eiffel dan Sungai Seine. Menara itu berdiri di tepi kiri Seine, Tepi Selatan. Saya berdiri di dermaga, melihat besi 330 meter itu memotong langit Paris. Lalu naik perahu, menyusuri sungai. Air Seine membawa saya pelan-pelan mengelilingi sejarah.

Saya juga masuk museum legendaris Paris. Louvre. Istana bekas raja yang jadi rumah Mona Lisa, Venus de Milo, Piramida kaca I.M. Pei. Di sana saya sadar: seni itu cara manusia mengalahkan waktu.

Foto saya di bawah Eiffel 2004 dulu grainy. Baru kemarin aku poles jadi jernih lagi. Karena kenangan Prancis layak ditampilkan dengan warna yang benar.

Piala Dunia 2026 Prancis lolos ke 32 besar bersama Norwegia di Grup I. Les Bleus mainnya elegan, seperti Seine: mengalir, tapi dalam. Saya yakin stadion di AS-Meksiko-Kanada nanti akan bersorak dengan aksen Prancis.

Norwegia - Bendera yang Belum Saya Sentuh

Dari 6 tim yang lolos, hanya Norwegia yang belum pernah saya jejaki. Mereka lolos dari Grup I bersama Prancis setelah menang 3-2 atas Senegal.

Saya tidak punya cerita tentang fjord, tentang aurora, tentang musim dingin panjang. Tapi saya punya rasa penasaran. Sepakbola Norwegia sekarang naik. Ada Haaland, ada Ødegaard. Mereka main seperti negaranya: dingin di luar, meledak di dalam.

Mungkin suatu hari saya ke Oslo. Biar 6 dari 6 bendera babak gugur ini lengkap saya sentuh. Biar feature ini punya epilog.

Perdagangan yang Tidak Masuk Neraca

Sejak 1992 hingga 2017 saya ke AS berkali-kali. Bukan untuk wisata, tapi untuk belajar: keuangan, bioteknologi, arsitektur, politik. Pada 1996 saya ke Meksiko dan Argentina untuk misi Kadin. Angka dan kontrak.

Pada 2004 saya ke Jerman dan Prancis untuk grafika dan seni. Tapi negara-negara itu membayar saya dengan mata uang lain: pengalaman. AS membayar dengan Amtrak dan kerusuhan. Meksiko dengan ombak Acapulco. Argentina dengan ciuman di pipi. Jerman dengan bahasa yang presisi. Prancis dengan Seine yang mengalir pelan.

Kini 2026, lima dari enam tim yang saya kunjungi lolos ke babak gugur. Ketika bendera mereka berkibar di stadion, yang muncul di kepala saya bukan skor. Tapi rasa.

Dari Queens ke Acapulco. Dari Buenos Aires ke Düsseldorf. Dari Seine ke Hawaii. Ternyata hidup saya sudah seperti Piala Dunia sejak lama. Enam grup, 6 babak, 6 kenangan. Tinggal Norwegia yang menunggu giliran.

Jakarta, 23 Juni 2026