• Sat, Jul 2026

Musim LK: Hiburan Mahal di Bursa Negara Dongeng

Musim LK: Hiburan Mahal di Bursa Negara Dongeng

Kita menyongsong musim laporan keuangan. Bagi investor ritel fundamental, ini musim hiburan. Bagi bandar, ini musim panen. Bagi koruptor, ini musim bagi-bagi.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Kita menyongsong musim laporan keuangan. Bagi investor ritel fundamental, ini musim hiburan. Bagi bandar, ini musim panen. Bagi koruptor, ini musim bagi-bagi. 

Dunia Kebakaran, Negeri Kebal Hukum

Timteng menyala lagi. Harga minyak nenggak ke langit. Trump makin jumawa, dikelilingi negara-negara penjilat yang rela jadi karpet merah. 

Hantu inflasi keluar dari kubur. Suku bunga naik. Biaya dana mahal. UMKM tercekik. Proyek mangkrak.

Di dalam negeri? Korupsi makin kreatif. Dari pagar laut sampai kuota haji. Dari bansos sampai timah. Santapan wajib tiap hari. Rasanya Indonesia ini bukan mau jadi negara maju. Mau jadi negara dongeng: semua bisa terjadi kalau ada amplop.

Di tengah sirkus itu, IHSG Jumat 24/07/2026 terjungkal 1,88%. Eforia 14 hari hijau di awal Juli langsung ambyar. 

Buat spekulan, masih ada gorengan. Ada saham gocap yang naik 20% karena "katanya" mau akuisisi. Ada bandar yang teriak "sikat" di grup WA. 

Tapi buat kita yang masih waras, musim LK adalah satu-satunya hiburan yang masuk akal. Karena angka, setidaknya, masih lebih jujur dari pejabat.

BULL: Pas Panik Dia Malah Senyum 12%

Hiburan pertama di portofolio saya: PT Buana Lintas Lautan Tbk - BULL.Pasar merah, BULL naik 12,31% sehari. Anomali? Tidak juga.

Coba lihat dapurnya. 1Q26 BULL sudah cetak Net Profit Margin 18,4% dan ROE 14,2%. Di industri pelayaran itu angka yang keterlaluan bagusnya. Ditopang tarif angkutan yang naik dan efisiensi BBM.

2Q26? Harga minyak masih tinggi, gangguan Laut Merah bikin tarif kontainer global naik, dan rupiah lemah bikin impor makin mahal. Efeknya: semua lari ke pelayaran domestik. BULL tinggal metik.

Penerawangan saya: laba 2Q26 akan ngulang atau ngalahin 1Q26. Kenaikan 12% kemarin bukan gorengan. Itu investor institusi yang udah ngintip LK duluan. 

Markiton. Mari kita tonton. Kalau meleset, saya siap disumpahin satu grup.

TINS: Harga Timah 50 Ribu USD, Saham Malah Diseret -7%

Ini yang bikin kepala ngebul: PT Timah Tbk - TINS.

Logika paling dasar: harga timah > USD 50.000 per mt = Timah hujan duit. 1Q26 sudah bukti. NPM TINS tembus 11,8% dan EBITDA Margin 22%. Angka yang 3 tahun nggak pernah kita lihat.

2Q26 harusnya lebih kinclong. Harga rata-rata timah kuartal 2 lebih tinggi. Produksi aman.Lalu kenapa sahamnya digebuk 7,05% dalam sehari? Jawabannya cuma dua. 
 

Pertama, pasar tahu sesuatu yang kita nggak tahu. Bisa jadi demand EV melemah. Bisa jadi kontrak ekspor batal.
 

Kedua, skenario klasik BUMN komoditas. Harga naik = godaan naik. Ada "bocoran" proyek, ada "jatah" smelter, ada "uang keamanan". 

Investor udah trauma. Jadi prinsipnya: jual dulu, klarifikasi belakangan. Guilty until proven innocent.

Kalau nanti LK keluar dan laba TINS jeblok, berarti penerawangan saya salah. Kalau labanya bagus tapi harga tetap digebuk, berarti kita semua tahu siapa yang main di belakang layar.

Markiton. Mari kita tonton. Sambil siapin tisu.

Kalkulator vs Amplop

Musim LK ini kejam. Dia membongkar siapa emiten beneran kerja, dan siapa yang cuma jago pencitraan.

IHSG boleh anjlok. Asing boleh kabur. Pejabat boleh korupsi. Bandar boleh goreng.Tapi selama masih ada BULL yang naik karena kinerja, selama masih ada TINS yang diuji oleh pasar, artinya rasionalitas belum mati total di negeri ini.

Jadi silakan ambil popcorn. Tapi jangan lupa bawa kalkulator. Karena di negara dongeng ini, satu-satunya senjata kita melawan omong kosong adalah angka.

Dan angka tidak bisa disuap.