INFRASTRUKTUR.CO.ID, TANIMBAR: Pembangunan Proyek LNG Abadi Masela mempertemukan kepentingan energi tiga negara. INPEX Corporation asal Jepang menjadi operator utama, sementara Pertamina mewakili kepentingan Indonesia dan Petronas membawa keterlibatan Malaysia dalam proyek gas bernilai sekitar US$20,9 miliar tersebut.
Kemitraan itu membentuk salah satu konsorsium energi terbesar yang beroperasi di kawasan timur Indonesia. INPEX Masela Ltd. menguasai 65 persen hak partisipasi, Pertamina Hulu Energi Masela memiliki 20 persen, dan Petronas Masela memegang 15 persen.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia terbuka terhadap investasi asing dan kemitraan internasional yang dibangun atas dasar saling menguntungkan. Investor harus memperoleh keuntungan yang layak, tetapi proyek juga wajib memberikan manfaat nyata bagi negara dan masyarakat.
“Jalankanlah proyek ini dengan sebaik-baiknya atas dasar saling menguntungkan. Para investor harus untung,” kata Prabowo saat meresmikan groundbreaking Proyek LNG Abadi Masela melalui konferensi video, Kamis, 16 Juli 2026.
Namun, Presiden mengingatkan pemerintah tetap memiliki tanggung jawab kepada rakyat Indonesia. Kekayaan energi di Blok Masela harus digunakan untuk mendukung pembangunan, memperkuat ketahanan energi, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
INPEX tetap menjadi operator utama
INPEX telah terlibat dalam pengembangan Blok Masela sejak tahap awal. Cadangan gas Lapangan Abadi ditemukan di Laut Arafura pada 2000, setelah kontrak proyek dimulai pada akhir dekade 1990-an.
Perusahaan asal Jepang tersebut tetap menjadi pemegang saham mayoritas sekaligus operator proyek. Posisi itu membuat INPEX bertanggung jawab memimpin perencanaan, desain, pengadaan, pembangunan, dan pengoperasian fasilitas utama.
Proyek mencakup sumur produksi bawah laut, sistem perpipaan, fasilitas Floating Production Storage and Offloading atau FPSO, kilang LNG darat, pelabuhan, serta fasilitas Carbon Capture and Storage atau CCS.
Lapangan Abadi berada sekitar 750 kilometer di selatan Ambon. Kedalaman air di kawasan proyek berkisar antara 400 hingga 800 meter. Gas dari fasilitas produksi di laut akan dialirkan menuju kilang darat di Pulau Yamdena, Kabupaten Kepulauan Tanimbar.
Ketika beroperasi, proyek dirancang menghasilkan LNG sebanyak 9,5 juta ton per tahun. Selain itu, Masela ditargetkan menghasilkan gas pipa sekitar 150 juta kaki kubik per hari dan kondensat hingga 35.000 barel per hari.
Prabowo secara khusus menyampaikan penghargaan kepada Presiden dan CEO INPEX Corporation Takayuki Ueda. Ia menilai kesediaan pemimpin perusahaan tersebut mempelajari bahasa Indonesia menjadi simbol penghormatan terhadap negara tempat perusahaan berinvestasi.
“Saya lihat tidak banyak CEO perusahaan asing yang mau belajar bahasa Indonesia. Terima kasih, Takayuki Ueda,” ujar Prabowo.
Pertamina masuk setelah Shell keluar
Struktur kepemilikan Proyek Masela mengalami perubahan penting pada 2023. Shell sebelumnya menguasai 35 persen hak partisipasi, tetapi kemudian memutuskan keluar dari proyek.
Porsi yang ditinggalkan Shell diambil alih Pertamina sebesar 20 persen dan Petronas sebesar 15 persen. Setelah transaksi tersebut, INPEX tetap memiliki 65 persen sekaligus mempertahankan perannya sebagai operator.
Masuknya Pertamina memperbesar keterlibatan perusahaan nasional dalam salah satu sumber gas utama Indonesia. Kepemilikan 20 persen memberi Pertamina akses terhadap produksi, pengalaman teknologi, tata kelola proyek, dan manfaat ekonomi sesuai porsi partisipasinya.
Keterlibatan Pertamina juga mempunyai arti strategis. Pemerintah tidak hanya bertindak sebagai regulator dan penerima bagian negara, tetapi memiliki perusahaan nasional yang secara langsung menjadi peserta proyek.
Posisi tersebut diharapkan memperkuat kemampuan Indonesia dalam mengelola proyek gas laut dalam, kilang LNG, jaringan pipa, dan teknologi penyimpanan karbon.
Namun, manfaat tersebut bergantung pada seberapa jauh transfer teknologi dan pengetahuan benar-benar berlangsung. Kehadiran Pertamina harus menghasilkan peningkatan kemampuan teknis, bukan hanya kepemilikan saham dan penerimaan finansial.
Petronas memperkuat kemitraan kawasan
Masuknya Petronas menambah dimensi regional dalam pengembangan Masela. Perusahaan energi nasional Malaysia itu telah memiliki pengalaman mengembangkan proyek migas dan LNG di berbagai negara.
Kepemilikan sebesar 15 persen menunjukkan Masela tidak hanya menjadi kerja sama bilateral Indonesia dan Jepang. Proyek tersebut juga memperkuat hubungan ekonomi dan energi di Asia Tenggara.
Bagi Petronas, Masela menawarkan akses terhadap cadangan gas besar dan produksi LNG jangka panjang. Bagi Indonesia, masuknya Petronas membantu mengisi ruang investasi yang ditinggalkan Shell sekaligus memperkuat kapasitas pembiayaan konsorsium.
Kemitraan tiga negara juga membagi risiko proyek. Pengembangan LNG Abadi membutuhkan modal sangat besar, teknologi kompleks, dan waktu pembangunan panjang. Risiko biaya, jadwal, harga energi, serta perubahan pasar tidak ditanggung satu perusahaan saja.
Meski demikian, pembagian risiko harus diikuti pembagian tanggung jawab yang jelas. Pemerintah perlu memastikan seluruh anggota konsorsium tetap berkomitmen sampai pembangunan selesai dan produksi berjalan.
Jepang berkepentingan terhadap pasokan LNG
Bagi Jepang, keterlibatan INPEX di Masela tidak dapat dilepaskan dari kepentingan ketahanan energi. Jepang merupakan negara industri dengan kebutuhan energi besar, tetapi mempunyai sumber daya minyak dan gas domestik yang terbatas.
LNG menjadi salah satu komponen penting dalam sistem energinya. Karena itu, keterlibatan perusahaan Jepang dalam proyek gas di luar negeri juga berfungsi memperluas sumber pasokan dan mengurangi risiko ketergantungan pada satu kawasan.
Prabowo menyampaikan apresiasi terhadap investasi Jepang dan menempatkan proyek tersebut sebagai kerja sama yang harus memberikan keuntungan kepada kedua pihak.
“Kita hargai kawan-kawan kita dari Jepang yang investasi di sini, dari INPEX,” katanya.
Namun, kepentingan Jepang terhadap pasokan tidak boleh mengurangi kebutuhan Indonesia. Pemerintah telah menyatakan sedikitnya 60 persen gas Masela diarahkan untuk pasar domestik, sedangkan ekspor dibatasi maksimal 40 persen.
Kebijakan itu menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan antara kepentingan investor internasional dan kebutuhan energi nasional.
Gas domestik menjadi garis kepentingan Indonesia
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan alokasi minimal 60 persen untuk kebutuhan dalam negeri. Gas tersebut direncanakan memasok industri pupuk, pembangkit listrik, jaringan gas, dan sejumlah perusahaan swasta.
PLN, PGN, dan Pupuk Indonesia telah disebut sebagai calon pembeli domestik. Sebagian gas juga diharapkan mendorong pembangunan industri hilir dan menciptakan nilai tambah di sekitar wilayah proyek.
Keputusan ini penting karena proyek LNG biasanya sangat dipengaruhi kontrak ekspor jangka panjang. Pembeli internasional memberikan kepastian pasar dan pendapatan bagi investor.
Namun, apabila porsi ekspor terlalu besar, Indonesia dapat menghadapi ironi: gas diproduksi dari wilayah nasional, tetapi industri dalam negeri tetap kekurangan pasokan atau membeli energi dengan harga tinggi.
Pemerintah perlu memastikan alokasi domestik tidak hanya berhenti sebagai target persentase. Kontrak jual beli, harga, volume, jadwal pasokan, dan infrastruktur distribusinya harus segera ditetapkan.
Tanpa pembeli dan jaringan penyaluran yang siap, gas domestik dapat sulit terserap. Sebaliknya, tanpa harga yang kompetitif, industri nasional tidak memperoleh manfaat maksimal.
Investor untung, masyarakat tidak boleh tertinggal
Prabowo mengakui proyek berskala besar harus menjaga kepercayaan investor. Indonesia, menurut dia, harus menjadi tuan rumah yang memastikan mitranya mendapat keuntungan dan kepastian usaha.
Namun, tanggung jawab pemerintah tidak berhenti pada keberhasilan investasi. Masyarakat di daerah penghasil harus memperoleh pekerjaan, peluang usaha, infrastruktur, serta peningkatan pelayanan publik.
“Kita yang malu kalau mitra kita tidak puas, kalau mitra kita rugi. Tapi sebaliknya, kita punya tanggung jawab yang besar kepada rakyat kita,” ujar Prabowo.
Pemerintah meminta tenaga kerja dari Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya diprioritaskan. Pada puncak konstruksi, proyek diperkirakan menyerap sekitar 12.000 tenaga kerja langsung.
Pengusaha lokal juga dijanjikan kesempatan dalam pengadaan barang dan jasa yang sesuai dengan kemampuan mereka. Apabila kapasitasnya belum mencukupi, perusahaan nasional dan BUMN diminta memberikan pendampingan.
Kebijakan afirmasi tersebut harus dilakukan secara profesional. Menteri ESDM mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menitipkan perusahaan berdasarkan kedekatan politik atau hubungan dengan tim sukses.
Diplomasi ekonomi di tengah ketidakpastian global
Prabowo menempatkan proyek Masela dalam konteks dunia yang diwarnai konflik, ketegangan geopolitik, dan ketidakpastian pasokan energi.
Menurut dia, Indonesia perlu mempertahankan hubungan baik dengan seluruh negara dan terbuka terhadap mitra yang ingin bekerja sama secara saling menguntungkan.
“Kita terbuka kepada semua mitra, semua negara yang mau masuk ke Indonesia, mau bermitra dengan Indonesia, mau bekerja dengan saling menguntungkan,” katanya.
Kemitraan di Masela menggambarkan pendekatan tersebut. Indonesia bekerja dengan perusahaan Jepang dan Malaysia, tetapi tetap melibatkan Pertamina sebagai perusahaan nasional dan mempertahankan kepentingan domestik.
Model ini dapat memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi energi. Negara tidak hanya menjadi pemilik cadangan, tetapi juga tempat investasi, pasar gas, pusat produksi, dan calon lokasi industri hilir.
Namun, posisi tawar Indonesia akan bergantung pada konsistensi kebijakan, kepastian hukum, kualitas tata kelola, serta kemampuan menyelesaikan proyek tepat waktu.
Pembuktian setelah groundbreaking
Groundbreaking menjadi tonggak penting setelah proyek menunggu hampir tiga dekade. Tetapi konsorsium masih harus melewati tahapan desain akhir, pengadaan, pembangunan, pengeboran, dan keputusan investasi.
Skala proyek yang besar membuat risiko keterlambatan dan kenaikan biaya tetap terbuka. Pengalaman panjang Masela menunjukkan perubahan kebijakan, struktur pemegang saham, dan desain teknis dapat memengaruhi jadwal secara signifikan.
Pemerintah perlu memastikan kemitraan INPEX, Pertamina, dan Petronas tidak berhenti pada seremoni. Ketiga perusahaan harus menunjukkan kepastian pendanaan, pembagian tugas, target pembangunan, dan jadwal produksi yang dapat dipantau.
Pada saat yang sama, manfaat bagi Indonesia harus terukur. Indikatornya mencakup porsi gas domestik, penerimaan negara, keterlibatan Pertamina, tenaga kerja lokal, kontrak untuk pengusaha daerah, dan pembangunan industri hilir.
Proyek Masela menjadi ujian bagi model kerja sama sumber daya alam Indonesia. Investor asing harus memperoleh keuntungan dan kepastian, sementara negara menjaga kedaulatan energi serta kepentingan rakyat.
Apabila keseimbangan tersebut tercapai, kemitraan Jepang, Indonesia, dan Malaysia di Masela dapat menjadi contoh investasi internasional yang tidak hanya mengejar produksi dan ekspor, tetapi juga memperkuat industri nasional dan pembangunan Indonesia Timur.