• Tue, Aug 2026

Komdigi Percepat Peta Jalan 5G, Targetkan Cakupan Mendekati Nasional pada 2029

Komdigi Percepat Peta Jalan 5G, Targetkan Cakupan Mendekati Nasional pada 2029

Kementerian Komunikasi dan Digital mempercepat peta jalan pengembangan jaringan 5G untuk menopang ekonomi digital berbasis kecerdasan artifisial. Pemerintah menargetkan cakupan layanan 5G terus meluas hingga mendekati cakupan nasional pada 2029.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mempercepat pengembangan jaringan 5G di Indonesia. Langkah ini ditempuh untuk menjawab kebutuhan ekonomi digital generasi baru yang semakin bergantung pada kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Sekretaris Jenderal Komdigi Ismail mengatakan, perkembangan AI telah mengubah arah pembangunan infrastruktur telekomunikasi. Konektivitas kini tidak lagi sekadar menjadi sarana komunikasi, tetapi telah menjadi fondasi produktivitas, inovasi, dan daya saing nasional.

“Roadmap 5G harus kita percepat. Kita berharap pada 2029 cakupan 5G di Indonesia terus berkembang sampai ke pelosok-pelosok tanah air. Ini penting karena dunia sedang bergerak menuju ekonomi berbasis AI, sehingga infrastruktur digital harus mampu mengimbangi kebutuhan tersebut,” ujar Ismail dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.

## Bukan Sekadar Perluasan Jaringan

Ismail menjelaskan, Indonesia sebenarnya telah memiliki fondasi infrastruktur digital yang cukup kuat. Jaringan serat optik nasional telah membentang lebih dari satu juta kilometer, termasuk kabel bawah laut yang menghubungkan berbagai pulau di Indonesia.

Namun, tantangan berikutnya bukan lagi semata memperluas jaringan dasar. Pemerintah kini fokus meningkatkan kapasitas, kualitas, dan ketahanan jaringan agar mampu menopang layanan digital generasi baru.

“Tantangan kita bukan lagi sekadar memperluas jaringan dasar. Yang kita bangun sekarang adalah infrastruktur yang mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital berbasis AI,” kata Ismail.

Perubahan ini membuat industri telekomunikasi harus menyesuaikan model pembangunan jaringan. Jika sebelumnya operator lebih banyak berfokus pada penyediaan kapasitas bandwidth, kini jaringan harus mampu mendukung layanan AI cloud, komputasi berkinerja tinggi, Internet of Things (IoT), dan berbagai aplikasi digital produktif.

“Dulu operator menjual bandwidth. Sekarang infrastruktur harus mampu mendukung layanan AI cloud dan berbagai aplikasi produktif yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan industri,” ujarnya.

## Spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz Disiapkan

Untuk mempercepat implementasi 5G, pemerintah menyiapkan kebijakan yang memberi kepastian investasi bagi operator telekomunikasi. Salah satunya melalui penyediaan spektrum frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz dengan skema biaya yang lebih terjangkau.

Spektrum frekuensi menjadi faktor penting dalam pembangunan jaringan 5G. Pita 700 MHz dapat membantu perluasan cakupan jaringan karena memiliki karakteristik jangkauan yang lebih luas. Sementara pita 2,6 GHz dapat mendukung kapasitas layanan yang lebih besar, terutama di kawasan dengan kebutuhan trafik data tinggi.

“Kami baru saja merilis spektrum 700 MHz dan 2,6 GHz dengan biaya yang lebih terjangkau dibanding sebelumnya. Pemerintah harus hadir memberikan ruang agar investasi infrastruktur digital dapat tumbuh lebih cepat,” jelas Ismail.

Selain penyediaan spektrum, Komdigi juga menyiapkan regulasi yang memberikan kepastian bagi investasi jangka panjang. Kepastian regulasi dinilai penting agar industri telekomunikasi berani memperluas jaringan sekaligus mengembangkan layanan digital baru.

## Operator Didorong Ubah Model Bisnis

Ismail juga mendorong operator telekomunikasi melakukan transformasi model bisnis. Operator tidak lagi cukup hanya menyediakan konektivitas, tetapi juga perlu menghadirkan solusi digital yang memberi nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi.

Sektor yang disasar meliputi pertanian, pertambangan, manufaktur, kesehatan, pendidikan, hingga sektor keuangan. Di sektor-sektor tersebut, jaringan 5G dapat menjadi fondasi bagi otomatisasi, layanan berbasis data, pemantauan jarak jauh, analitik berbasis AI, serta integrasi perangkat IoT.

“Kita ingin operator tidak hanya menyediakan jaringan, tetapi juga menghadirkan solusi yang menciptakan nilai tambah bagi berbagai sektor ekonomi,” kata Ismail.

Dengan arah tersebut, pembangunan 5G tidak hanya menjadi proyek teknologi, tetapi juga bagian dari strategi meningkatkan produktivitas nasional. Jaringan cepat dan andal akan menjadi prasyarat bagi industri, pemerintah, dan masyarakat untuk memanfaatkan AI secara lebih luas.

## Terestrial dan Satelit Perlu Diintegrasikan

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan geografis dalam membangun infrastruktur digital. Karena itu, pemerintah mengembangkan pendekatan konektivitas yang memadukan jaringan terestrial dan satelit melalui non-terrestrial network.

Integrasi tersebut dibutuhkan agar layanan digital berkecepatan tinggi dapat menjangkau wilayah Indonesia secara lebih efisien dan merata. Dengan kombinasi jaringan darat, kabel bawah laut, dan satelit, layanan digital diharapkan tidak hanya terkonsentrasi di kota-kota besar.

Percepatan peta jalan 5G akhirnya menjadi bagian dari agenda besar transformasi digital nasional. Pemerintah ingin memastikan infrastruktur telekomunikasi mampu mengimbangi kebutuhan ekonomi berbasis AI, sekaligus memperluas manfaat digitalisasi hingga ke pelosok tanah air.