Bukan Soal Destry Damayanti, Tapi Soal Institusi
Jadi, apakah Destry orang yang tepat? Ia punya pengalaman. Ia punya rekam jejak. Itu modal penting. Tapi di 2026, kita butuh lebih dari CV.
Investor institusi asing, karena berbagai alasan, makin alergis berinvestasi di Indonesia. Pull out masih terus berlangsung di saham, di SBN, di FDI. Bobot Indonesia di MSCI Emerging Market, yang dulu pernah 2.6%, kini tinggal 0.4%.
INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Investor ritel, saya salah satu, punya keterbatasan. Horison investasi mereka relatif pendek. Kadang emosional. Harga naik sedikit TP (take profit). Harga turun sedikit CL (cut loss).
Karena itu saham yang investor institusional tidak hadir sebagai pemegang, karena alasan fundamental, atau kapitalisasi yang kecil, atau likuiditas yang tipis cenderung stagnan.
Investor institusi cendeng memiliki horison investasi lebih panjang. Dan lebih rasional.
Tapi dua dua soal runyam dengan investor institusi ini, di sini.
Pertama, institusional investor dalam negeri sering sekali dikendalikan oleh orang orang serakah yang mengorbankan organisasi untuk keuntungan pribadi Lihat: Jiwasraya, Asabri, Taspen, dst.
Kedua, sementara investor institusi asing, karena berbagai alasan, makin alergis berinvestasi di Indonesia. Pull out masih terus berlangsung di saham, di SBN, di FDI. Bobot Indonesia di MSCI Emerging Market, yang dulu pernah 2.6%, kini tinggal 0.4%.
*) Ditulis oleh Hasan Zein Mahmud, Redaktur Khusus Infrastruktur.co.id
Jadi, apakah Destry orang yang tepat? Ia punya pengalaman. Ia punya rekam jejak. Itu modal penting. Tapi di 2026, kita butuh lebih dari CV.
Sebelum dikenal sebagai pusat perdagangan arloji dan tas, Toko Populer di Pasar Baru pernah menjadi simpul bisnis modern, perdagangan piringan hitam, dan sejarah rekaman lagu kebangsaan Indonesia.
Kenaikan margin membuat laba Charoen Pokphand Indonesia hampir dua kali lipat pada semester I-2026. Namun, konversi laba menjadi kas melemah setelah pembayaran kepada pemasok dan persediaan meningkat tajam.