• Fri, Jul 2026

LPDS Ulang Tahun: Kompetensi di HP, Sejarah Perempuan di Buku

LPDS Ulang Tahun: Kompetensi di HP, Sejarah Perempuan di Buku

Inilah cara LPDS merayakan ulang tahun. Bukan dengan pesta besar. Tapi dengan kerja: membuat wartawan lebih kompeten, dan membuat sejarah lebih lengkap.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Di Balai Sastra H.B. Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jumat pagi (24/7/2026) terasa berbeda. Bukan hanya karena angklung Srikandi mengalun penutup acara. Tapi karena di tempat itu, sejarah dan masa depan jurnalisme Indonesia dipertemukan.

Lembaga Pers Dr. Soetomo atau LPDS merayakan HUT ke-38 dengan cara yang tidak biasa: meluncurkan platform digital, menerbitkan buku, dan menggelar diskusi tentang perempuan. Tiga langkah sekaligus.

"Ini bukan sekadar ulang tahun," ujar Direktur Eksekutif LPDS Kristanto Hartadi di sela acara. "Ini tentang menjawab tantangan zaman."

E-LEARNING UKW

Tantangan industri pers hari ini berat. Redaksi menyusut, platform berubah, hoaks merajalela. Di tengah itu, LPDS meluncurkan platform e-Learning Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Sebagai konseptor UKW, LPDS merasa punya tanggung jawab. Platform ini berisi materi-materi kompetensi agar wartawan bisa belajar mandiri sebelum duduk di ruang ujian.

"Dengan kondisi pers saat ini, kami meluncurkan e-Learning agar wartawan memahami materi ketika mengikuti uji kompetensi," kata Kristanto.

Bayangannya sederhana: wartawan di Depok, di Papua, di pelosok, bisa buka HP dan belajar. Tidak perlu lagi menunggu pelatihan datang ke kota. Kompetensi kini bisa diakses kapan saja.

PEREMPUAN KE HALAMAN SEJARAH

Seusai peluncuran platform, panggung beralih ke buku baru: "Jejak Zaman: Nilai Jurnalisme Lima Tokoh Perempuan Pers Indonesia.

Selama ini, buku sejarah pers Indonesia isinya kebanyakan nama laki-laki. Padahal ada Rohana Koeddoes, SK Trimurti, Ani Idrus, Herawati Diah, dan Toety Azis. Ada juga Gadis Rasid. Ada perempuan-perempuan yang mengetik di tengah peluru 1945, yang mendirikan surat kabar dengan dana pas-pasan, yang melawan adat demi bisa menulis.

"Sejarah pers perempuan jarang diungkapkan," kata Anggota Dewan Pers 2025–2028 Rosarita Niken Widiastuti."Karena itu saya mengapresiasi LPDS yang sudah mengangkat cerita perempuan."

Niken sendiri dalam diskusi Jejak Perempuan dalam Pers Indonesia menyorot nama-nama besar tersebut. Wartawan senior Oscar Motuloh lalu bercerita tentang Gadis Rasid dan ketangguhannya di masa kemerdekaan.

Diskusi yang dimoderatori pengajar LPDS Maria D. Andriana ini bukan nostalgia. Ini pengingat. Bahwa tantangan jurnalis perempuan hari ini masih ada: tekanan budaya, diskriminasi, minim akses sumber daya.

"Kita sebagai pers perempuan harus meningkatkan kepercayaan diri dan kualitas diri agar tantangan itu bisa diatasi," pesan Niken.

ANAK KANDUNG DEWAN PERS

Wakil Ketua Dewan Pembina YPMA Bambang Harymurti mengingatkan asal-usul LPDS. Lembaga ini lahir dari keputusan Sidang Pleno Dewan Pers. Yayasan Pers Dr. Soetomo dibentuk 5 Februari 1988, dan LPDS resmi berdiri 23 Juli 1988 di Jakarta.

"Jadi LPDS ini anak kandung Dewan Pers," ujarnya.

Kini, 38 tahun kemudian, "anak kandung" itu sudah besar. Tidak hanya melahirkan pelatihan dan sertifikasi. Kini ia juga menanamkan ingatan: bahwa jurnalisme Indonesia tidak hanya ditulis oleh satu gender.

Acara ditutup musik angklung Srikandi. Lagu-lagu tradisional dimainkan perempuan. Pas. Karena hari itu LPDS sedang merayakan dua hal: kompetensi yang dimasa depan, dan jejak yang selama ini tertinggal di masa lalu.

Itulah cara LPDS merayakan ulang tahun. Bukan dengan pesta besar. Tapi dengan kerja: membuat wartawan lebih kompeten, dan membuat sejarah lebih lengkap.