• Thu, Jul 2026

Dermaga Kapal Cepat Mandalika Dikebut, Konektivitas Bali-Lombok Disiapkan

Dermaga Kapal Cepat Mandalika Dikebut, Konektivitas Bali-Lombok Disiapkan

Pembangunan dermaga kapal cepat di kawasan Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, memasuki fase penting menuju target operasional pada 2026. Infrastruktur laut ini diharapkan menjadi pintu baru konektivitas wisata antara Bali dan Mandalika, sekaligus memperkuat posisi kawasan ekonomi khusus tersebut sebagai destinasi pariwisata kelas dunia.

INFRASTRUKTUR.CO.ID, JAKARTA: Pembangunan dermaga kapal cepat Mandalika terus dikebut. Proyek yang sempat berjalan lambat itu kini memasuki tahap penentu untuk mengejar target operasional pada akhir 2026. 

Dermaga tersebut diproyeksikan menjadi simpul baru konektivitas laut antara Bali dan Mandalika. Kehadirannya diharapkan dapat memangkas hambatan akses wisatawan, membuka arus kunjungan baru, dan memperkuat ekosistem pariwisata di Lombok Tengah.

Dikethui sebelumnya, telah ada uji coba pada 2022, rute kapal cepat Sanur-Mandalika sempat mengangkut ribuan penumpang dalam waktu singkat. Uji coba itu menunjukkan potensi pasar yang besar. Namun, operasional rute tersebut kemudian berhenti karena persoalan perizinan dan kesiapan fasilitas.

Kini, pembangunan dermaga menunjukkan arah yang lebih terukur. Untuk mengingat kembali riwayatnya, pada akhir 2025, progres fisik dermaga disebut telah mencapai sekitar 70 persen hingga 75 persen. Sejumlah perizinan juga tengah diproses secara berlapis, mulai dari analisis mengenai dampak lingkungan, izin ruang laut, hingga izin sandar kapal cepat.

Proses perizinan melibatkan pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, dan pemerintah pusat. Dengan dukungan studi kelayakan yang telah rampung serta keterlibatan pihak swasta sebagai pengembang, proyek ini diharapkan dapat menjawab kebutuhan akses laut menuju Mandalika.

Kepala Dinas Perhubungan NTB Ervan Anwar mengatakan pihak-pihak terkait telah mematangkan rencana pembangunan tersebut bersama tim ahli perencana. Aka coba dikoordinasikan persiapan pembangunannya. “Dalam waktu dekat insyaalah sudah ada informasi terkait teknis,” tambahnya dalam diskusi khusus bersama pihak terkait.

Jadi Tol Laut Pendek Bali-Mandalika

Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika dirancang tidak hanya sebagai lokasi penyelenggaraan ajang internasional, tetapi juga sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis pariwisata.

Dalam industri pariwisata, akses menjadi faktor penting. Destinasi yang menarik tetap membutuhkan konektivitas yang mudah, cepat, dan nyaman agar mampu menarik kunjungan wisatawan secara berkelanjutan.

Rute kapal cepat Sanur-Mandalika diperkirakan dapat memangkas waktu tempuh wisatawan dari Bali menjadi sekitar dua jam. Dengan jutaan wisatawan yang telah masuk melalui Bali, Mandalika berpeluang memperoleh limpahan pasar yang besar apabila konektivitas laut berjalan konsisten.

Dermaga kapal cepat ini dapat berfungsi sebagai “tol laut pendek” yang menghubungkan dua episentrum wisata nasional, yakni Bali dan Lombok. Infrastruktur tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat manfaat investasi besar di KEK Mandalika.

Investasi publik di kawasan Mandalika disebut telah menembus lebih dari Rp5,7 triliun. Selain itu, realisasi investasi pada semester pertama 2025 mencapai Rp14,66 miliar dari target hampir Rp537 miliar. Meski masih jauh dari target, angka tersebut menunjukkan bahwa pengembangan kawasan terus bergerak.

KEK Mandalika juga telah menyerap lebih dari 19.000 tenaga kerja dan mengelola ratusan hektare lahan yang dikembangkan berdasarkan zona prioritas. Dengan tambahan konektivitas laut, dampak ekonomi kawasan diharapkan dapat meluas ke sektor akomodasi, transportasi, kuliner, UMKM, dan jasa wisata.

Infrastruktur Saja Tidak Cukup

Meski dermaga menjadi proyek penting, keberhasilannya tidak cukup hanya ditentukan oleh pembangunan fisik. Pengoperasian dermaga perlu ditopang kesiapan regulasi, keselamatan, sumber daya manusia, dan standar layanan yang memadai.

Salah satu tantangan utama adalah perizinan. Izin operasional dermaga apung dan kapal cepat sering tersangkut karena aspek keselamatan. Operator kapal cepat meminta dermaga rampung 100 persen sebelum pelayaran dilakukan, sementara kementerian teknis menuntut jaminan keamanan penuh.

Kehati-hatian regulator diperlukan untuk memastikan keselamatan penumpang. Namun, dari sisi pariwisata, keterlambatan terlalu lama dapat membuat peluang pasar hilang. Karena itu, koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, pengelola kawasan, dan operator perlu diperkuat.

Dermaga juga tidak boleh hanya menjadi bangunan yang dipakai sesekali saat ada agenda besar. Infrastruktur ini harus dikelola sebagai simpul transportasi wisata yang hidup dan terintegrasi.

Fasilitas pendukung perlu disiapkan sejak awal, mulai dari akses jalan, ruang tunggu, sistem tiket digital, keamanan laut, informasi perjalanan, hingga layanan darat lanjutan menuju hotel dan destinasi wisata.

Rute juga tidak harus berhenti pada Sanur-Mandalika. Ke depan, konektivitas dapat diperluas ke kawasan pesisir lain di Lombok atau pulau-pulau sekitar sehingga Mandalika menjadi episentrum perjalanan, bukan sekadar tujuan tunggal.

Kesiapan sumber daya manusia turut menjadi pekerjaan penting. Pemandu wisata, petugas dermaga, operator keselamatan, pelaku UMKM, hingga pengelola layanan transportasi perlu memiliki standar pelayanan yang selaras dengan target Mandalika sebagai destinasi kelas dunia.

Pengembangan dermaga kapal cepat Mandalika pada akhirnya menjadi ujian bagi pengelolaan kawasan. Jika hanya berhenti sebagai proyek konstruksi, manfaatnya akan terbatas. Namun, jika dikelola sebagai bagian dari ekosistem wisata, dermaga ini dapat memperluas pasar, mempercepat pertumbuhan ekonomi lokal, dan meningkatkan daya saing Mandalika.

Dengan target operasional pada 2026, pekerjaan fisik mungkin dapat selesai dalam waktu dekat. Akan tetapi, pekerjaan sosial, regulasi, dan manajemen kawasan membutuhkan visi yang lebih panjang. Masa depan Mandalika akan ditentukan oleh kemampuan semua pihak menjadikan dermaga ini sebagai pintu masuk baru bagi pariwisata yang aman, tertib, dan berkelas dunia.