Piala Dunia 2026, Negara yang Saya Kunjungi Lolos ke Babak Gugur
Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.
Kini Piala Dunia 2026 datang. Tiga negara yang dulu saya singgahi - Meksiko, Brasil, Argentina - kembali berlaga. Dan anehnya, setiap kali bendera mereka berkibar, yang muncul di kepala saya bukan data ekonomi, tapi rasa. Me
INDOWORK.ID, JAKARTA: Tiga dekade lalu. Saya ke Amerika Latin bukan sebagai turis, tapi sebagai pewarta. Membawa catatan misi perdagangan dan industri Kadin Indonesia. Tugasnya kaku, formal, penuh angka ekspor-impor. Tapi Amerika Latin punya cara sendiri untuk mencairkan segalanya. Dia menyelipkan kenangan di sela rapat, di luar ruang sidang, di antara negosiasi.
Kini Piala Dunia 2026 datang. Tiga negara yang dulu saya singgahi - Meksiko, Brasil, Argentina - kembali berlaga. Dan anehnya, setiap kali bendera mereka berkibar, yang muncul di kepala saya bukan data ekonomi, tapi rasa.
Meksiko: Pelukan Laut Acapulco
Meksiko adalah pemberhentian pertama misi itu. Kota-kotanya sibuk, pasarnya bising, orangnya hangat. Tapi kenangan paling indah bukan di ruang rapat. Dia ada di Acapulco.
Laut Pasifik di sana tidak seperti laut lain. Warnanya biru yang terlalu dalam untuk disebut biru. Tebing-tebingnya tempat para clavadista - penyelam Acapulco - terjun dari ketinggian 35 meter, seakan menantang gravitasi dan Tuhan. Saya duduk di restoran tepi tebing, makan ceviche, minum michelada, dan berpikir: begini rasanya hidup tanpa takut.
Kini, 30 tahun kemudian, Meksiko kembali jadi tuan rumah Piala Dunia. Kali ini bersama AS dan Kanada. Dan Meksiko lagi-lagi jadi tim pertama yang lolos ke babak 32 besar. Mereka menyapu bersih laga grup. Sepakbolanya sama seperti Acapulco: berani, ekspresif, tidak menghitung risiko. El Tri bermain dengan dada terbuka. Kalah menang urusan nanti. Yang penting penonton puas.
Saya membayangkan kalau ada babak gugur di Stadion Azteca, sorakan 80.000 orang akan mengguncang seperti ombak Acapulco menghantam tebing. Kenangan laut itu kembali. Bedanya, dulu saya minum sendiri. Sekarang saya sorak bersama dunia.
Brasil: Lampu Neon yang Tak Pernah Padam
Dari Meksiko saya terbang ke Brasil. Tugasnya meliput industri, tapi Brasil tidak pernah mau hanya soal pabrik dan neraca dagang. Dia memaksa saya melihat sisi lain: kehidupan malamnya.
Rio de Janeiro malam hari adalah kota tanpa penutup. Lampu neon, samba, tawa, dan obrolan yang mengalir sampai subuh. Saya belajar satu hal: orang Brasil tidak menunda bahagia. Mereka menari dulu, kerja nanti. Kebebasan itu bukan anarki. Dia cara mereka bertahan dari panas, dari sejarah, dari segala yang berat.
Di Piala Dunia 2026, Brasil masih Brasil. Masuk Grup C bersama Maroko dan Skotlandia. Sepakbolanya tetap: bahu digoyang, kaki berbicara, senyum tidak pernah hilang walau ketinggalan gol. Joga bonito bukan sekadar slogan. Itu kontrak sosial mereka dengan bola.
Saya membayangkan gol Brasil di 2026. Pasti ada pemain yang selebrasi sambil menari. Pasti ada sorakan yang nadanya seperti musik jalanan Rio. Dan saya, di Jakarta, akan ikut bergoyang di depan TV. Karena 1996 saya pernah melihat sendiri: kalau Brasil bahagia, seluruh stadion ikut bahagia.
Argentina: Ciuman di Tengah Mall
Perhentian terakhir: Argentina. Negara yang paling Eropa di Amerika Latin, tapi hatinya paling Latin. Dingin di luar, panas di dalam.
Kenangan paling aneh sekaligus paling manusiawi terjadi di sebuah mall Buenos Aires. Saya selesai liputan, mampir belanja suvenir. Kasirnya gadis muda, ramah, matanya berbicara. Ketika saya bayar, dia memberi lebih dari kembalian. Dia memberi ciuman di pipi. “Para la suerte,” katanya. Untuk keberuntungan.Saya kaku. Dia tertawa. “Orang Argentina begitu,” kata temannya. Kedengarannya sepele. Tapi ciuman itu menempel 30 tahun. Dia mengajarkan: di Argentina, keramahan tidak diukur dengan protokol. Dia diukur dengan kedekatan.
30 tahun kemudian, Argentina datang ke Piala Dunia 2026 sebagai juara bertahan. Mereka sudah lolos ke babak 32 besar. Mainnya tetap Albiceleste: keras, cerdik, dan punya magi. Ada Messi? Tentu saja. Para pemain Argentina DNA-nya sama: berani, nekat, dan selalu punya garra - cakar.
Argentina menang di babak gugur. Perayaan di Buenos Aires pasti seperti malam di mall itu: orang berpelukan, berciuman pipi, berbagi kebahagiaan tanpa tanya “kamu siapa”. Karena bagi Argentina, kemenangan adalah milik semua orang.
Perdagangan yang Tak Masuk Catatan
Pada 1996 saya datang untuk misi perdagangan dan industri Kadin Indonesia. Catatan saya penuh angka, kontrak, peluang ekspor. Tapi Amerika Latin memberi saya perdagangan lain: pertukaran rasa.
Meksiko menukar angka dengan ombak Acapulco. Brasil menukar neraca dagang dengan lampu neon Rio. Argentina menukar protokol dengan ciuman di pipi.
Kini 2026, mereka bertiga masuk Piala Dunia. Meksiko dan Argentina sudah lolos, Brasil berpeluang besar ikut menyusul. Saya tidak lagi membawa catatan Kadin Indonesia. Saya hanya membawa ingatan.
Dan ternyata, kenangan itu lebih mahal dari kontrak mana pun. Karena dia tidak pernah kedaluwarsa.
Jakarta, 23 Juni 2026.
Ternyata hidup saya seperti grup Piala Dunia. Setiap negara meninggalkan satu babak kenangan. Dan ketika mereka lolos ke babak gugur, kenangan itu ikut lolos juga.
Mesir lebih aktif menyerang dari berbagai sisi, termasuk mengandalkan Mohammad Salah (Liverpool) di kanan dan Omar Marmoush (Manchester City) di sisi kiri. Gol yang diciptakan Mostafa Zico pada babak kedua, berasal dari gebrakan dari sayap kanan, bek kanan Mohammad Hany mengirim umpan lambung ke tengah, dan disambut sundulan kepala Zico.
Sudah lebih dari 13 tahun saya tak menginjakkan kaki di Eropa. Tapi Piala Dunia 2026 mengembalikan semuanya. Lewat layar kaca, saya kembali berjalan di kanal Amsterdam, menatap Eiffel saat lampu-lampunya berkelip, mencicip wafel hangat di Brussel, dan mendengar denting jam di Zurich.